“Kami sebagai sebagai instansi teknis pasti punya alasan, saintifiknya. Jadi, semua berdasarkan scientific based knowlege,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PLSB3), Rosa Vivien Ratnawati, dalam keterangan kepada media, Jumat (12/03).

Rosa mengatakan, pembakaran batu bara pada PLTU sudah menggunakan pulverize coal. Artinya, kata dia, pembakaran batu bara menggunakan temperatur tinggi sehingga karbon yang tak terbakar dalam FABA “menjadi minimum dan lebih stabil”.

“Hal ini yang menyebabkan, FABA itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, substitusi semen, jalan, tambang bawah tanah, serta restorasi tambang,” kata Rosa dalam keterangan kepada media, Jumat (12/03).

Rosa menambahkan FABA yang masuk kategori non limbah B3 hanya dari PLTU saja. Sementara swasta yang sudah menggunakan fasilitas pulverize coal, FABA dari pabrik mereka harus tetap “harus memakai standard, bagaimana pengangkutan, itu harus tetap mereka lakukan dengan baik.”

Sementara itu, bagi industri swasta yang masih menggunakan metode pembakaran batu bara tungku, hasil pembakaran batu bara mereka masih dikategorikan limbah B3.

“Pembakaran dilakukan pada temperatur rendah, dan sehingga unburned carbon di FABA-nya masih tinggi. Mengindikasikan pembakaran masih kurang sempurna dan relatif tidak stabil saat disimpan, sehingga masih dikategorikan limbah B3,” lanjut Rosa.

Sementara itu, Edy, warga Cilegon, Banten, yang rumahnya dekat dengan PLTU Suralaya mengaku, setelah ada pabrik warga mengalami persoalan kesehatan.

“Debu fly ash itu bukan seperti makan cabe, begitu dimakan langsung pedas. Tetap debu fly ash kalau terhisap oleh manusia itu prosesnya satu tahun sampai dua tahun,” kata Edy dalam sebuah acara Zoom, Jumat (12/03).

Di sana, pada 2019 terjadi hujan debu hasil dari pembakaran batu bara PLTU Suralaya yang sempat mengganggu aktivitas warga. “Setelah hujan debu, di jalan itu sudah ditutup sama debu. Orang-orang yang berkendara sempat berhenti. Bahkan orang-orang kendaraan roda dua, nggak bisa,” lanjut Edy.

Edy juga mengatakan kehidupan keluarga dan masyarakat di sana lebih baik sebelum ada PLTU. “Makanan dulu sebelum ada industri terjamin benar, berani. Sekarang petani kesulitan. Jadi kalau berbicara, menguntungkan sumber kehidupan yang berdampak. itu sesuatu yang bohong,” katanya.

Cerita selengkapnya…