Jakarta, CNN Indonesia — Organisasi masyarakat sipil dan nelayan Bengkulu yang tergabung dalam Koalisi Langit Biru membentangkan spanduk raksasa berukuran 20×12 meter tepat di perairan dekat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara Teluk Sepang, Rabu (5/2).

Spanduk tersebut bertuliskan “Jokowi, PLTU Membunuh Laut Kami”.

Aksi penolakan atas pembangkit kotor ini dilakukan bersamaan dengan waktu kunjungan Presiden untuk peresmian tugu ibu pendiri negara, Fatmawati, di Bengkulu.

“Ibu Fatmawati adalah ibu yang menjahit bendera Indonesia sehingga bangsa ini bisa meraih kemerdekaan. Sayangnya Indonesia telah dicabik-cabik dengan kebijakan pembangunan PLTU batu bara kotor seperti proyek PLTU Teluk Sepang ini. Jokowi telah memupus harapan masyarakat bumi Raflesia untuk bisa menghirup udara bersih,” kata Ali Akbar dari Yayasan Kanopi Bengkulu dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (5/2).

Ali menyebut proyek tersebut diduga penuh masalah seperti maladministrasi yang dinyatakan Ombudsman RI, klaim persetujuan warga, melanggar tata ruang, menghancurkan sumber nafkah petani, dan menghilangkan kawasan hutan mangrove.

“Ini adalah jalan sesat sumber energi listrik. Kematian 28 ekor penyu yang diduga kuat disebabkan oleh proses uji coba PLTU ini, seharusnya menjadikan semua pihak meletakkannya sebagai fondasi kesadaran untuk mengevaluasi ulang seluruh PLTU batu bara ini,” kata dia.

Ahmad Ashov Birry, dari gerakan Bersihkan Indonesia menuding, PLTU ini adalah tipikal kebijakan pemerintah yang tidak menganggap penting pada aspek lingkungan dan masyarakat. Sementara itu, kata dia, masyarakat akan menanggung biaya yang melekat dari investasi PLTU itui dengan nilai yang begitu mahal seperti kesehatan dan lingkungan.

More stories on…